Rabu, 29 September 2010

GURU

Guru adalah manusia mulia di manapun berada, katanya. Kemuliaan itu ditinjau dari ilmu yang diberikan kepada anak didiknya. Tentu saja dengan ikhlas. Seperti biasanya, orang yang ikhlas memberikan sesuatu dicatat sebagai orang yang paling baik hati dan tidak sombong tentunya. Untuk itu, orang Jawa menyebutkan bahwa guru adalah orang yang digugu dan ditiru (dipercaya dan dijadikan contoh). Artinya, dipercaya akan ilmu yang diberikannya dan dicontoh dengan kepemilikan ilmunya dan keihlasannya memberikan ilmu yang dimiliki. Ilmu yang dimiliki seorang guru tidak diragukan lagi karena guru pada masa kini mempunyai syarat-syarat untuk menjadi seorang guru. Pertama, seorang guru minimal mempunyai kualifikasi pendidikan sarjana dengan ilmu yang sesuai dengan bidangnya. Dengan ketentuan tersebut, tidak diragukan lagi kemampuan seorang guru akan ilmunya. Kedua, seorang guru mempunyai kemampuan pedagogis untuk mentransfer ilmunya tersebut.
Sedangkan keikhlasan? Jelas seorang guru wajib mempunyai rasa ikhlas untuk memberikan ilmunya karena  katanya "orang yang paling bakhil adalah orang yang tidak mau memberikan ilmunya kepada orang lain". Untuk menunjang keikhlasan tersebut, pemerintah Republik Indonesia memberikan tunjangan kepada guru yang semakin besar. Pertanyaannya apakah seorang guru masih ikhlas apabila tunjangan sertifikasi ditiadakan? Tentu saja masih. Tetap iklhas dalam membimbing dan mengajar murid-muridnya untuk menjadi manusia yang pandai. Tapi tidak ikhlas kalau tunjangan sertifikasinya dicabut. Jadi bidang keikhlasannya berbeda antara memberikan ilmu dan menerima kesejahteraan. (Tulisan ini masih dapat ditinjau ulang dan masih dapat menerima usulan dan masukan. Atas masukan dan usulannya, saya ucapkan terima kasih)